SEPERTI KOPI; Disudut Meja


Aku berdecak kesal. Ini sudah hampir pukul delapan pagi tapi bus tidak kunjung datang, ini tidak sesuai dengan biasanya. Aku bisa terlambat dan sepertinya gajiku bulan ini akan dipotong oleh bosku.


Aku terus melihat kesana-kemari dan mencoba menyetop semua mobil yang melewati ku, namun tidak ada satupun yang berhenti. Huh sungguh menyebalkan! Mereka hanya tidak tahu siapa aku. Aku terus mencoba menyetop kendaraan secara acak, akhirnya ada yang sudi berhenti dan bisa menolongku.

Pemilik mobil tersebut berhenti dan membuka jendelanya. Sangat tampan. Sepertinya Tuhan sedang menunjukkan kehebatannya padaku. Pemilik mata hitam ini memakai kaos putih polos dibalut dengan kemeja kotak-kotak serta kacamata hitam yang bertengger di bajunya. Inilah definisi sempurna yang sesungguhnya.


"Ada apa?" Tanya lelaki tampan tersebut.


Aku tersadar. Buru-buru aku mengelap tanganku dan menyodorkannya. "Charly." Ucapku memperkenalkan diri.


Namun sepertinya lelaki itu kebingungan, tanganku dibiarkan saja seperti gula dalam endapan kopi yang lupa diaduk. Aku tersenyum dan menarik tanganku kembali.


"Bolehkah aku menumpang di mobil mu dan mengantarku ke Summer Coffee?" Tanyaku.


Tanpa membalas lelaki tersebut langsung membukakan pintunya dan menyuruhku masuk. Aku sangat bersyukur, Thank God! Aku bisa berada satu mobil dengan lelaki tampan ini. Keadaan mobilnya sangatlah rapi dan tentunya wangi, sepertinya lelaki ini sangat menyukai kebersihan. Tapi tunggu dulu! Wangi ini adalah wangi yang setiap hari menemaniku, ini wangi temanku. Kopi.


"Eum kamu suka kopi?" Tanyaku memberanikan diri.


Dia hanya berdehem tanpa menolehkan kepalanya. Apakah lelaki ini seorang Iceboy seperti yang selalu Olive ceritakan padaku ketika ia baca di dunia oranye. Tapi apakah mungkin seseorang yang dibuat di sebuah cerita jasadnya ada di dunia nyata? Whatever, yang terpenting dia sangatlah tampan. Aku senang bisa berada disampingnya walaupun hanya beberapa menit.


Ketika sampai di Summer Coffee aku turun dari mobilnya. Belum sempat aku mengucapkan terimakasih, dia sudah melajukan mobilnya. Hei aku belum tahu siapa dia, setidaknya untuk berkenalan agar aku tahu namanya.


Aku masuk kedalam kedai, disana sudah ada beberapa pengunjung. Dengan cepat aku menuju meja kopi dan menghampiri Olive disana. Dia mendelik tajam kearahku, sepertinya dia kewalahan melayani semua pesanan. Aku hanya menunjukkan gigiku lalu membantunya membersihkan beberapa mesin yang terkena tumpahan air.


"Huhh belum siang aja kedai udah rame, apalagi nanti sore." Desah Olive mengelap keringatnya.


"Yee harusnya Lo bersyukur kedai rame. Kalo sepi kita juga yang repot harus cari pelanggan." Bantahku melempar lap yang sedari tadi ku pegang.


"Woo Gw lupa, jam berapa sekarang?" Teriak Olive seperti yang takut telat ujian nasional.


Aku melirik arloji ku sebentar. "12.47 p.m." Jawabku santai.


"Ck buruan bangun! Kita telat, kita harus kumpul disuruh Pak Holder." Ujar Olive buru-buru.


Kita bangun dan aku mengikuti Olive entah kemana. Olive berlari akupun mengikutinya, ternyata aku dibawa ke depan ruangan Pak Holder, Bosku. Disana sudah berkumpul pelayan-pelayan kedai lainnya.


"Selamat siang semuanya! Maaf mengganggu istirahatnya. Seperti yang sudah saya bilang kemarin, kalian di kumpulkan disini karena saya akan mengenalkan anak saya, dia akan menggantikan saya disini. Saya terlalu sibuk jika harus menangani kedai ini juga karena kalian tau sendiri kedai ini sangat ramai. Saya akan menunjukkan dan memperkenalkan anak saya, dia adalah Tayler Holder. Dia yang akan menghandle kedai ini kedepannya." Jelas Pak Holder panjang lebar.


"Halo semua saya Tayler, umur 23. Baru lulus S1 jurusan seni. Salam kenal." Ucap Pak Tayler.


Dari suara dan bagaimana dia berbicara sepertinya orang ini sangatlah sombong. Sayangnya aku tak bisa melihat lelaki ini karena terh…


Tayler menyebalkan




"Tayler Holder." Jawabnya menyebutkan namanya.


Apa? Benarkah? Berarti dia adalah bos pengganti Pak Holder. Sangat memalukan! Aku melihat wajahnya, dia tampak bingung dengan apa yang terjadi padaku.


"Maaf, aku gak tau. Maafkan aku." Ucapku menunduk. Untung saja kedai sudah mulai sepi dan dipojok sini hanya ada aku dan Pak Tayler.


"It's okay. Siapa namamu? Saya lupa."


"Charly, Charly Jordan." Jawabku. Tayler mengangguk paham, keadaan seperti ini membuatku sangat canggung. "Aku izin kembali ke belakang, Pak." Lanjut ku. Lebih baik menghindar daripada terus berdiam disini.


"Temani saya minum." Jawabnya singkat. Baru saja aku ingin menjawabnya dia berbicara lagi. "Mau saya pecat?" Lanjutnya bertanya.


Aku menggeleng, tentu saja tidak mau dipecat karena tidak menemani sang bos minum kopi. Tapi ini tidak diperbolehkan, aku pelayan dan tidak seharusnya aku duduk di kursi dengan bos di hadapanku. Aku pelayannya bukan kliennya.


"Perihal kopimu. Saya menyukai nya, tidak terlalu manis tapi pahitnya juga tidak terlalu mendominasi. Art yang kamu buat juga bagus, tidak gampang pecah." Jelasnya.


"Makasih, Pak. Tapi para barista disini memang dituntut agar membuat kopi seperti itu."


"Mau membantah, hm? Keahlian ku dikopi bukan sembarang keahlian, asal kamu tau saya yang buat peraturan seperti itu disini jauh sebelum saya menjabat disini."


Aku menunduk malu, benar-benar memalukan. Yang ku lakukan sekarang hanyalah berdiam diri menatap Tayler yang sedang meminum kopi. Oh ayolah banyak sekali pekerjaan yang belum aku selesaikan.


"Kopimu manis tapi tak semanis dirimu." Gumam Tayler pelan namun masih bisa aku dengar.


Aku tersipu mendengar ucapannya, dia lelaki yang sangat tampan dan menolongku tadi pagi sekarang menyebutku manis. Tenang Charly tenang!


Hari semakin gelap namun Tayler belum juga menghabiskan kopinya, sedari tadi dia terus menerus memijat mijat ponsel keluaran terbarunya. Sedangkan aku hanya menatap luar jendela sesekali melihat Tayler yang tak kunjung menyeruput kopi nya lagi.


"Pak aku mau kerja lagi, kerjaan dibelakang belum selesai semua." Pintaku.


Tayler menatapku dalam seolah mengancam, lalu dia meneguk kopi nya hingga habis seperti orang yang kehausan. Tayler berdiri kemudian pergi meninggalkanku. Apa maksudnya? Apa ini sebuah perizinan atau penolakan? Hish ngeselin!


Aku kembali ke belakang mengambil kain lap kemudian mengelap beberapa mesin yang kotor. Jika ingin tahu, aku adalah barista satu-satunya yang jarang sekali membersihkan mesin ketika meracik kopi.


Setelah selesai aku melirik Olive yang sedang meracik kopi melayani pengunjung. Olive memberikan kopi nya kemudian menoleh ke arahku juga dari wajahnya tersirat menanyakan kenapa, aku hanya menggeleng kemudian pergi.


Sebelum kedai ini kembali ramai, aku membersihkan semua meja. Petang petang seperti ini, pengunjung memang biasa sepi namun ketika malam menjelang kedai menjadi ramai kembali. Yang ku ketahui sebagian besar pengunjung malam adalah orang-orang yang baru pulang dari bekerja.


"Charly!"


Mendengar namaku disebut, aku menoleh ternyata Tayler tengah berdiri memandang ku dari pintu menuju belakang. Aku menghampirinya dan dia malah pergi dan kembali ke ruangannya. Ini orang kenapa? Takut terjadi apa-apa aku mengikutinya dan ia menyuruhku masuk ke ruangan nya.


Ketika aku menginjakkan kakiku di ruangannya dan masuk lebih dalam lagi, aku terkejut dengan kondisi ruangan ini. Sayang sekali kedai ini dituntut kebersihannya namun ruang bos nya saja sangat kotor dan berantakan.


"Kenapa, pak?" Tanyaku.


"Minum saya tumpah, tolong lap dan ambilkan yang baru!" Jawabnya menyuruhku.


"Apa?"


"Kenapa? Mau nolak?" Tanya Tayler balik.

Yang benar saja semua orang bisa melakukan ini tanpa harus menyuruh orang lain. Aku melirik Tayler dan dia malah merebahkan badannya di sofa panjang. What the hell.


Untung saja aku membawa lap tadi, aku mengambil gelas yang tergeletak di lantai kemudian mengelap air yang menggenang. Untung saja gelasnya tidak pecah.


"Mau aku ambilkan apa?" Tanyaku ketus.


"Apapun asal dengan kutipannya." Jawab Tayler tanpa menoleh ke arahku.


Tanpa menjawabnya aku pergi mengambil kopi yang sama dengan yang ku berikan padanya tadi. Walaupun dia sudah meminum kopi dan sekarang harus meminumnya lagi aku sangat tidak peduli. Toh dia meminta kutipan juga, yang sangat ku hapal hanyalah kutipan kopi.


"Ini pak." Ucap ku menyodorkan segelas kopi.


Tayler tak kunjung mengambil kopinya. Dia terus sibuk dengan ponselnya. Aku memanggilnya lagi namun nihil, dia masih tidak menjawabnya. Aku kesal, maksudnya apa? Bisa-bisanya Pak Holder memberikan kedai ini pada anaknya. Selain tuli anaknya pun sangat malas dan manja.


"Aku tidak hanya meminta minuman." Jawabnya datar.


Aku membuang napas kasar. "Janganlah malas. Minum secangkir kopi dan buat kembali karya mu dan gemparkanlah dunia." Seruku.


Tayler pun menyimpan ponselnya kemudian duduk dan mengambil cangkir dari tanganku. "Jangan pergi, temani saya."


Aku menurut lalu duduk disampingnya. Tidak ada percakapan diantara kami, aku hanya memperhatikan Tayler yang mulai menuju meja kerjanya dan mengetikkan laptop didepannya. Entah apa yang ia ketikkan aku tidak tahu dan tidak ingin tahu.


"Charly Jordan, siswa hebat dan mendapatkan beasiswa sehingga menjadi mahasiswi di universitas swasta yang sangat populer di kota ini." Ucap Tayler menyebutkan biografi ku. "Oh hebatnya." Lanjut Tayler berkomentar.


"Jelas aku hebat." Balasku menyombongkan diri.


"Jurusan apa?"


"Model." Jawabku. Seketika tawa Tayler pecah bahkan meja kerjanya ia pukul-pukul. "Kenapa?* Tanyaku.


"Oh kau seorang model ternyata hahah." Ucap Tayler meremehkan.


"Kenapa? Jika aku mengambil jurusan model kenapa?" Tanyaku membentak sambil memukul-mukul bahu dan lengannya.


"Ah sakit sakit, stop it!" Erang Tayler akupun menghentikannya.


"Kau meremehkan ku!" Ucapku dengan penuh penekanan.


"I didn't mean!" Elaknya.


"Aku kembali ke kedepan, takut banyak pengunjung dan Olive kerepotan." Pamit ku.


"Tidak!" Tahan nya menarik tanganku. "Kopi saya belum habis, kamu jangan pergi!" Tegasnya dengan nada sangat dingin.


"Oh bapak mau semua pelanggan pergi dan tak puas karena lama mengantri? Bapak mau kedai ini sepi dan mmppth.."


"Itu bukan tujuan semua pemilik kedai." Sargahnya tegas namun tangannya masih menutupi mulutku.


Tayler ternyata sangatlah menyebalkan, aku menyesal karena menyebutnya tampan. Semua ketampanannya pudar hanya dengan melihat sifatnya yang aneh seperti ini. Ohh aku tidak bisa bernapas. Aku menepuk-nepuk tangannya agar dia melepaskan bekapan ini.


Tayler pun melepaskan tangannya dari mulutku, aku mengambil napas banyak-banyak. Oh tangannya berbau sangat aneh seperti kopi luwak namun ini lebih ke kotorannya.


"Kamu jorok! Cuci tangan dulu sana!" Tanpa melihat siapa dia, aku menyuruhnya layaknya pada anak ku.


"Berani membantah?"


Waduh gawat!


"Tangan bapak sangat bau! Cuci tangannya dan aku akan kembali bekerja. Selamat malam Pak Tayler terhormat." Jawabku mengoceh.


"Urusan kita belum selesai, saya tidak menerima ucapanmu seperti tadi. Kau harus bertanggungjawab dengan ucapanmu tadi nona Charly terhormat." Balas Tayler membalas ku.


Tayler memasuki kamar mandi sepertinya akan membasuh tangannya. Aku kembali ke meja dan kembali bekerja.



1 comment
  • Facebook
  • Twitter
  • LinkedIn

Thank you